Aku tidak tahu mau menulis apa hehehe
Belum ada ide di kepalaku
Tapi jariku ingin menulis..
Baiklah aku akan memulai tulisan ini dengan bercerita.
Bukan tentang kisahku.. hahaah kenapa harus klarifikasi di awal? supaya tidak ada salah paham
Tidak semua yang aku tulis itu adalah masalah hidupku wkwkwk
Ada juga inspirasi dari kisah orang lain yang aku temui, yang aku lihat, yang aku baca ataupun yang aku tonton... Jadi jangan mengambil kesimpulan dengan cocoklogi di hidupku. okee.. sampai di sini clear yaaa
Cerita ini bermula dari perkenalan singkat dua orang yang bertemu dalam satu komunitas. Kita ibaratkan sang wanita adalah Putri dan sang laki-laki adalah Putra. Putra dan Putri ini mulai sering bertemu karena mereka berada di komunitas yang sama. Awalnya hanya sebagai rekan biasa, namun lama kelamaan, Putra mulai menaruh rasa kepada Putri. Bagaimana dengan Putri? Ia masih ragu-ragu apakah perasaan nyaman dengan Putra ini adalah perasaan cinta atau hanya perasaan sayang sebagai sahabat saja. Mereka rutin berbalas kata dan berbagi cerita tentang hari yang mereka lewati. Perasaan Putra yang semakin dalam kepada Putri membuat ia berpikir untuk menyatakan, namun ia memiliki banyak pertimbangan. Ia tidak ingin menjadi canggung jika Putri ternyata tidak memiliki perasaan yang sama dengannya.
Sementara Putri, ia masih bimbang dengan perasannya. Ia tidak mau memulai sesuatu yang tidak jelas arahnya. Ia terlalu fokus berkegiatan dan belajar.
Hingga tiba suatu waktu, Putra dan Putri memiliki waktu untuk duduk berdua di salah satu ruang komunitas. Anggota lain belum datang. Dengan mengumpulkan keberaniannya, Putra pun menyatakan perasaannya pada Putri. Putri yang mendengar hal itu sedikit terkejut dan bingung. Bagaimana ia harus menjawab. Dia butuh waktu yang panjang. Dan Putra pun mengatakan untuk tidak perlu terburu-buru menjawab. Selang beberapa lama anggota yang lain datang.
Sampai di rumah, Putri merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia memejamkan mata dan berpikir keras tentang apa yang diucapkan oleh Putra. Selang beberapa menit, ponselnya berbunyi. "Jangan buru-buru menjawab Put, aku siap untuk menunggu" kata Putra. Hal itu semakin membuat pikiran Putri berlarian. Berapa lama waktu yang aku butuhkan untuk menjawab? Bagaimana jika ternyata setelah lamanya waktu yang aku ajukan, jawabannya bukanlah yang Putra harapkan. Memikirkan hal itu Putri memantabkan hati untuk menjawab pernyataan dari Putra. "Maaf Putra, aku hanya menganggap kamu sebagai teman saja."
No comments:
Post a Comment
terimakasih telah berkunjung ke blog saya, jangan lupa tinggalkan komentar ya sahabat :)